Seperti biasa, aku berpikir dan ini kali pertama mencoba menuliskannya. Mungkin tulisanku ini geje, tapi itu yang aku pikirkan sekarang. Ehh, setiap saat aku berpikir deh —a.
Mungkin sering kita dengar jika pisau diasah maka akan semakin tajam, dan hal ini dianalogikan dengan otak kita dimana jika kita sering melatih otak kita maka kita akan semakin pintar. Memang benar jika kita menerimanya sekilas, namun jika ditelaah dan dipikir lagi mungkin jadi kurang tepat. Kenapa ?
Kita lihat pisau terlebih dahulu, “pisau digunakan untuk memotong benda ketika pisau itu sendiri sudah tajam, jika belum tajam maka perlu diasah agar tajam, ya kan”. Sebenarnya hampir sama dengan otak kita yang digunakan untuk mencari solusi dalam kehidupan ini sebagai contoh saat kita bersekolah adalah “mencari jawaban dari pertanyaan pelajaran-pelajaran itu ketika kita tahu pelajarannya, jika belum tahu maka perlu belajar dulu biar bisa”. Kedua kalimat itu memiliki pola yang sama, namun yang ingin saya bahas adalah ketika kita belajar ternyata kita memiliki batasan daya tampung dalam diri kita.
Begini, saya umpamakan otak kita seperti gelas air dan belajar ialah mengisi air pada gelas itu. Disini jika gelas yang kita miliki memiliki volume 500ml, maka kita hanya bisa mengisinya dengan 500ml air bukan ? jika lebih dari itu maka sisanya akan tumpah tidak tertampung. Makanya kita perlu menambah volume gelas yang kita miliki tersebut. Lho katanya otak kita memiliki kemampuan tiada batas ? mungkin anda bertanya demikian, memang benar namun kita belum mengaktifkan bagian-bagian lain dari otak kita. Sama halnya dengan ternyata kita memiliki gelas-gelas lain yang kita simpan di gudang, jika tidak kita ambil maka tidak akan kita gunakan. Lalu bagaimana cara menambah daya tampung otak kita itu ?
Sebagaimana kita tahu bahwa belajar membuat kita pintar, namun belajar hanya akan mengisi “volume” otak kita yang belum terisi tadi tapi tidak terlalu menambah kapasitas volume otak kita. Ada suatu kalimat yang mengganggu pikiran saya kali ini, belajar belum tentu berpikir namun berpikir selalu belajar. Dimana jika kita sambungkan dengan apa yang kita bahas menjadi ketika kita belajar maka tidak selalu menambah “volume” itu sendiri namun jika kita berpikir maka itu dapat meningkatkan “volume” atau kualitas otak kita.
Agar memahaminya lebih mudah, saya analogikan begini. Sebenarnya saat kita memiliki sepeda motor kita perlu memanasi mesin motor itu hampir setiap hari meskipun tidak digunakan. Ternyata sama dengan otak kita, meskipun kta tidak belajar namun setidaknya kita perlu menggunakan otak kita untuk berpikir agar kualitas otak kita tetap terjaga dan semakin baik.
Jadi bisa kita simpulkan bahwa kita tidak harus belajar untuk meningkatkan kualitas otak kita bukan dalam artian kita tidak belajar sama sekali, namun ada metode lain untuk tetap dapat meningkatkan kualitas otak kita yaitu dengan berpikir. Pikirkan apapun jugan hal sekecil apapun, setidak penting apapun dan buat hal itu menyenangkan diotak anda untuk dipikirkan sama halnya ketika motor sudah panas, maka motor itu akan siap kita gunakan kapanpun.
Mungkin kalian tidak terlalu percaya dengan apa yang saya pikirkan ini, namun tulisan ini adalah bukti bahwa saya menggunakan metode ini. Saya bukan tipe yang rajin belajar, namun rajin berpikir sehingga ketika saya belajar saya mengalami kemudahan luar biasa. Semua itu tidak lepas dari kekuasaan Allah SWT.
beri aku waktu untuk menjadi lebih baik dan layak bagimu
Siapa bilang mereka yang saat ini merasa sudah menemukan seseorang yang baik itu santai-santai dan bahagia-bahagia saja?
Mereka bahagia. Tapi mereka juga sama galaunya dengan orang-orang yang mungkin belum seberuntung dirinya. Mereka juga harus pandai menata hati.
Menata hati dari rasa takut kehilangan, sampai mengendalikan rasa cemburu.
Tapi, yang paling sulit itu ialah menata hati untuk mencintai, menyayangi, dan memperlihatkan rasa sayang dengan seadanya saja di saat mereka benar-benar di titik sangat menyayangi seseorang.
Ibaratnya, di saat mereka benar-benar kaya, mereka malah harus bisa menahan diri dari memiliki hal apapun yang sebenarnya bisa dimiliki.
Mengendalikan diri, hati, pikiran agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan rasa sayang.
Agar tidak kecewa jika ternyata harapan tidak sesuai dengan kenyataan.
Kata orang-orang tua, jangan berikan hatimu sepenuhnya untuk orang yang belum tentu jadi jodohmu, tapi beda ceritanya kalau orang itu sudah menjadi suami atau istrimu.
Hati itu sepenuhnya Allah yang punya. Kembalikanlah pada Allah. Dia Maha Pembolakbalik hati. Dia Tau yang terbaik. Semoga apa yang tertuliskan di Lauh Mahfuz kelak dapat terjaga sampai waktunya dan dapat diterima dengan lapang dada.